Rincian Hasil Hitung Cepat Setiap Provinsi

Posted by Patriot 0 comments
Pasangan Jokowi-JK meraih suara terbanyak berdasarkan hitung cepat (quick count) Radio Republik Indonesia (RRI). Berdasarkan sampel 98,50 persen suara yang sah, pasangan nomor urut 2 itu mengumpulkan 52,54 persen suara. Adapun, pasangan Prabowo-Hatta mendapatkan 47,46 persen suara.

Dari 33 provinsi, Prabowo-Hatta menang di 11 provinsi, termasuk Aceh, Sumbar, Jabar, dan dan Banten. Sedangkan, Jokowi-JK unggul di 22 provinsi, di antaranya Sumut, DKI Jakarta, Jateng, Jatim, dan Bali, yang merupakan basis PDIP.

Seperti diketahui, hitung cepat RRI merupakan yang terakurat dan paling presisi di Pileg 9 April lalu. Direktur Utama RRI Rosalita Niken Widiastuti mengatakan, hasil di pileg lalu, margin of error dari hitung cepat RRI dibanding KPU adalah 0,41 persen.

"Ternyata angka ini lebih kecil dibanding perkiraan kami sebesar 1 persen. Target kami pada pemilihan presiden nanti, angkanya bisa lebih kecil lagi atau minimal sama dengan Pileg,” ujarnya belum lama ini.

Metode yang digunakan RRI adalah metode kuantitatif dengan multy stage random sampling. Dengan sistem ini, RRI menentukan 2 ribu TPS amatan yang dipilih dengan pertimbangan paling merepresentasikan suara pemilih.

Kali ini, RRI akan menerjunkan 2 ribu timnya ke 2 ribu TPS amatan tersebut dengan satu orang bertugas di satu TPS. Komposisi timnya adalah 60 persen merupakan karyawan RRI dan 40 persen relawan dari kalangan pelajar, mahasiswa, maupun pendengar setia RRI.

Berikut hasilnya:

Nama           Sampel    Partisipasi     Sah     Prabowo-Ht   Jokowi-JK

Aceh          100.00 %     62.47 %     96.85 %     52.48 %     47.52 %
Sumut         100.00 %     65.71 %     99.35 %     42.38 %     57.62 %
Sumbar        100.00 %     66.07 %     99.07 %     77.58 %     22.42 %
Sumsel        100.00 %     72.42 %     99.29 %     51.50 %     48.50 %
Jambi         100.00 %     72.48 %     97.55 %     48.47 %     51.53 %
Riau          100.00 %     69.98 %     99.49 %     50.16 %     49.84 %
Kep.          100.00 %     55.42 %     98.27 %     44.46 %     55.54 %
Kep. Babel    100.00 %     69.55 %     98.75 %     34.64 %     65.36 %
Bengkulu      100.00 %     76.29 %     99.50 %     39.59 %     60.41 %
Lampung        98.33 %     73.13 %     99.29 %     50.54 %     49.46 %
Banten        100.00 %     69.83 %     98.32 %     56.93 %     43.07 %
DKI Jakarta    98.39 %     82.41 %     98.99 %     48.31 %     51.69 %
DIY           100.00 %     80.38 %     98.17 %     43.80 %     56.20 %
Jabar          95.20 %     73.95 %     98.58 %     59.46 %     40.54 %
Jateng         99.30 %     72.53 %     98.66 %     34.34 %     65.66 %
Jatim         100.00 %     73.29 %     98.80 %     47.30 %     52.70 %
Bali          100.00 %     76.58 %     99.27 %     30.83 %     69.17 %
NTB            97.73 %     73.01 %     99.04 %     71.77 %     28.23 %
NTT            97.50 %     70.97 %     99.11 %     32.37 %     67.63 %
Kalbar         91.11 %     77.59 %     99.11 %     45.90 %     54.10 %
Kalsel        100.00 %     66.70 %     98.12 %     47.61 %     52.39 %
Kalteng       100.00 %     69.99 %     99.08 %     50.92 %     49.08 %
Kaltim         93.94 %     65.45 %     99.26 %     35.93 %     64.07 %
Sulbar        100.00 %     80.97 %     99.48 %     17.46 %     82.54 %
Sulsel        100.00 %     72.14 %     98.27 %     31.74 %     68.26 %
Sulteng       100.00 %     73.58 %     99.29 %     45.16 %     54.84 %
Sultra        100.00 %     64.13 %     99.28 %     38.87 %     61.13 %
Sulut         100.00 %     74.67 %     98.04 %     48.89 %     51.11 %
Gorontalo     100.00 %     72.80 %     99.50 %     60.62 %     39.38 %
Maluku        100.00 %     82.65 %     99.53 %     53.07 %     46.93 %
Maluku Utara  100.00 %     67.19 %     99.51 %     48.50 %     51.50 %
Papua Barat   100.00 %     65.41 %     99.08 %     48.07 %     51.93 %
Papua          91.18 %     83.53 %     98.99 %     32.80 %     67.20 %



sumber : republika.co.id

Baca Selengkapnya ....

Dekrit Indonesia: Prabowo-Hatta Jangan Panik, Jokowi-JK Jangan Euforia

Posted by Patriot 0 comments
Anggota Gerakan Dekrit Rakyat Indonesia, Haris Azhar, berpendapat pasangan Prabowo-Hatta terlihat panik dalam menghadapi hasil quick count beberapa lembaga survei. Sedangkan Jokowi-JK diminta tak perlu bereuforia dahulu.

"Capres nomor satu kelihatan panik dan ingin menyatakan kemenangan. Didukung dengan cara-cara yang kurang simpatik dengan membakar semangat yang saya juga tidak tahu siapa," ujar Haris.

Hal itu ia sampaikan dalam konferensi pers 'Wujudkan Pilpres Damai Tanpa Mengintervensi Suara Rakyat' yang diselenggarakan Gerakan Dekrit Rakyat Indonesia di Galeri Cemara 6, Jl. HOS Cokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (11/7/2014).

Selanjutnya, pria yang juga koordinator Kontras ini menyampaikan pihak Jokowi-JK tak perlu terlalu jauh menyikapi hasil quick count yang diselenggarakan lembaga-lembaga survei. "Itu bukan real count. Masih ada kerja yang harus dilihat dan dikawal," ujarnya.

Haris menyebutkan banyak kecurangan di lapangan dalam proses penghitungan suara ini, khususnya di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur.

"PPATK, Bank Indonesia, dan KPK, semua harus bekerja keras hari-hari ini. Karena ada pengalihan uang yang dialihkan di Jawa Barat dan Jawa Timur, khususnya Madura. Perhatikan alur cash dan gerak-gerik kepala daerah," tutur Haris.

Haris mengimbau para elite untuk tidak memprovokasi masyarakat dan menghormati pesta demokrasi ini.

Hadir pula dalam acara konferensi pers tersebut peneliti LIPI Prof. Mochtar Pabottingi, tokoh agama Romo Benny Susetyo, direktur Lingkar Madani Untuk Indonesia Ray Rangkuti, Koordinator Institut Hijau Indonesia Chalid Muhammad, dan beberapa anggota Gerakan Dekrit Rakyat Indonesia yang lain.

sumber : detik.com

Baca Selengkapnya ....

Spanduk Kemenangan Prabowo Bertebaran di Kota Solo

Posted by Patriot 0 comments

Spanduk yang berisi ungkapan kemenangan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa bertebaran di Kota Surakarta, Jumat, 11 Juli 2014. Jumlah spanduk tersebut diperkirakan lebih dari seratus. Tak lama setelah dipasang, spanduk-spanduk tersebut langsung dicopoti tim gabungan.

Spanduk tersebut terpasang di banyak titik sejak masuk kota di ujung barat hingga ujung timur. Kebanyakan berisi ucapan terima kasih kepada masyarakat yang telah ikut memenangkan pasangan Prabowo-Hatta. Di Solo, menurut penghitungan sementara, Prabowo kalah telak (Lihat: Pilpres, Koalisi Merah Putih Keok di Solo)

Panitia Pengawas Pemilu Kota Surakarta segera menggelar operasi pencopotan dengan bantuan Komisi Pemilihan Umum Surakarta, kepolisian, serta Satuan Polisi Pamong Praja. Mereka juga mengajak tim pemenangan Prabowo-Hatta serta Jokowi-Kalla untuk ikut menertibkan spanduk tersebut bersama-sama.

Ketua Panwaslu Surakarta Sri Sumanta mengatakan pihaknya baru saja menerima laporan ihwal keberadaan spanduk tersebut. "Mungkin dipasang semalam," katanya di sela-sela operasi. Pihaknya segera mengajak pihak-pihak terkait untuk menyikapi keberadaan spanduk tersebut.

Dia beralasan, keberadaan spanduk tersebut provokatif dan berpotensi memicu ketegangan. "Sebab, hingga sekarang belum ada kepastian mengenai pemenang pemilihan presiden," katanya. Pemenang pemilihan baru akan diumumkan secara resmi melalui sidang pleno KPU pada 22 Juli mendatang.

Mereka akhirnya bersepakat mencopoti semua spanduk tersebut. Hingga Jumat siang, baru sebagian yang berhasil diturunkan. "Kami akan terus berkeliling hingga semua spanduk dilepas," katanya. Menurut Sumanta, pihaknya belum mengetahui pihak yang memasang spanduk tersebut.

Salah satu perwakilan Koalisi Merah Putih--tim pemenangan Prabowo-Hatta--Purwanto, mengatakan pihaknya tidak pernah menginstruksikan pemasangan spanduk tersebut. "Bahkan kami juga kaget saat diberi tahu mengenai keberadaan spanduk tersebut," katanya. Karena itu, ia mendukung operasi pencopotan itu.

Purwanto mengatakan Koalisi Merah Putih telah sepakat melakukan cooling down hingga ada hasil akhir penghitungan suara dari KPU. Dia justru curiga ada pihak lain yang berupaya memperkeruh suasana dengan mengatasnamakan pendukung Prabowo. "Gerakannya terorganisasi, terlihat dari desain spanduknya yang rata-rata seragam," katanya.

Ketua KPU Surakarta Agus Sulistyo meminta semua pihak menjaga iklim yang kondusif pasca-pemilihan presiden. Dia juga meminta masyarakat menunggu hasil rekapitulasi yang dilakukan oleh KPU. "Lebih baik menunggu pengumuman resmi," katanya.

sumber : tempo




Baca Selengkapnya ....

Koalisi Prabowo Terancam Pecah Karena Hanya Berlandaskan Pragmatisme Kekuasaan

Posted by Patriot 0 comments
Polemik pemenang pemilu presiden membuat koalisi yang dibangun oleh calon presiden Prabowo Subianto terancam pecah. Koalisi itu dinilai akan pecah jika Prabowo ternyata kalah dalam Pilpres 2014 setelah KPU mengumumkan hasil hitungan resmi pada 22 Juli mendatang.

"Koalisi tersebut tidak berbasis pada pendekatan ideologi dan program. Koalisi terbentuk hanya berbasis pada pragmatisme kekuasaan semata," kata pengamat politik dan pemerintahan Universitas Padjadjaran (Unpad), Muradi, kepada Kompas.com, Jumat (11/7/2014).

Lebih jauh, Muradi menerangkan, karakteristik dasar sejumlah partai yang menyokong calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo-Hatta Rajasa tidak memiliki ikatan kepentingan program dan visi yang sejenis. Ia menilai koalisi tersebut terbentuk lebih karena magnet Prabowo daripada berbasis program atau ideologi.

Tak hanya itu, Muradi pun mengingatkan sejumlah partai yg menyokong Prabowo-Hatta di internalnya tidak solid dan di ambang perpecahan karena sebagian menyokong pasangan Jokowi-Jk.

"Beberapa partai tersebut, di antaranya, Golkar, Demokrat, dan PPP sehingga potensi ketiga partai itu menarik diri dan berbalik mendukung Jokowi-JK adalah sebuah keniscayaan," papar Muradi.

Terkait dengan partai-partai koalisi yang disebut Prabowo sebagai Koalisi Merah Putih itu, Muradi menilai ada simbiosis mutualisme politik antara partai pendukung Jokowi-JK dan partai yang berupaya untuk ikut dalam gerbong kekuasaan.

"Sementara secara realitas politik, Jokowi-JK apabila terpilih dalam pilpres ini membutuhkan sokongan politik di parlemen, dan kemungkinan partai yang merapat itu adalah Golkar dan PPP," tutup Muradi.

Diberitakan sebelumnya, Partai Golkar disebut akan mengubah arah koalisi jika Jokowi dinyatakan sebagai pemenang pilpres oleh KPU pada 22 Juli mendatang. Golkar disebut akan ikut mendukung Jokowi.
Sementara itu, PPP menyebut kecil kemungkinan pindah koalisi. PPP menyebut sudah menandatangani kontrak koalisi dan sulit untuk menolaknya.


sumber : kompas.com

Baca Selengkapnya ....

Jadi Bahan Canda, "TV One" Mengaku Terus Lakukan Perbaikan

Posted by Patriot 0 comments
TV One beberapa waktu lalu sempat menayangkan hasil hitung cepat yang memenangkan pasangan Prabowo-Hatta. Atas penayangan itu, stasiun televisi di bawah payung Grup Bakrie ini menjadi bahan guyonan di dunia maya. (Baca: "Quick Count" Jadi Bahan Canda Piala Dunia 2014).

Menanggapi munculnya guyonan itu, Sekretaris Perusahaan PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) yang membawahkan stasiun TV One, Neil Tobing, menyatakan, pihaknya akan terus melakukan evaluasi terhadap seluruh konten yang disiarkan. Hal ini bertujuan agar kualitas tayangan tetap terjaga.

Dia juga mengklaim bahwa tidak ada intervensi dari siapa pun dalam siaran yang ditayangkan TV One, termasuk dalam quick count hasil Pilpres 9 Juli silam.

"Jangan dikira kami tidak memperhatikan hal-hal itu, seperti guyonan untuk TV One. Itu semua kami perhatikan dan menjadi bahan evaluasi. Kalau memang secara internal ada yang salah, itu akan kami koreksi. Di running text kalau ada yang salah, itu juga ada sanksinya," ujar Neil saat berbincang dengan Kompas.com, Jumat (11/7/2014).

Menurut Neil, TV One berusaha menyajikan informasi yang akurat dan yang sedang dicari oleh pemirsa. "Seperti hari-hari ini, ketika media lain menayangkan quick count, kami sudah menayangkan krisis di Gaza. Kami berusaha menyajikan apa yang dibutuhkan pemirsa," lanjutnya.

Sebelumnya, TV One bersama stasiun televisi di bawah naungan Grup MNC menayangkan quick count yang memenangkan pasangan Prabowo-Hatta. Hasil itu berbeda dengan delapan lembaga survei kredibel, yang memenangkan pasangan Jokowi-JK.

Atas kejanggalan hasil quick count itu, muncullah polemik di masyarakat serta mengundang berbagai komentar lucu di media sosial.

Yang menarik, komentar penuh canda dari pengguna media sosial ini banyak dihubungkan dengan salah satu TV swasta yang menyiarkan hasil hitung cepat dan pertandingan sepak bola Piala Dunia 2014 yang tengah berlangsung di Brasil itu.

Misalnya, hasil pertandingan semifinal Belanda vs Argentina yang dimenangi oleh Messi dkk banyak dikomentari di Twitter. "Argentina yang menang, tapi kalau di TV One pasti Belanda yang menang. TV One Memang Beda sesuai motonya," tulis salah satu pengguna Twitter.

Argentina memang berhasil lolos ke final Piala Dunia 2014 setelah menang adu penalti atas Belanda pada laga semifinal Piala Dunia 2014, Kamis (10/7/2014).

Pengguna Twitter lain menulis, "Argentina dan Jerman lolos ke final. Tapi, harus menunggu pengumuman resmi tanggal 22 Juli."


sumber ; kompas

Baca Selengkapnya ....

Ini Pengakuan Mantan Peneliti IRC soal Survei Pendongkrak Popularitas

Posted by Patriot 0 comments
Mantan peneliti Indonesia Research Center (IRC), Asep Saepuddin, mengungkapkan permainan di balik survei-survei yang dilakukan lembaga itu. Menurut Asep, untuk menentukan sebuah lembaga survei kredibel atau tidak, perlu dilihat dari jejak rekam dan metodologi yang dipakai lembaga itu.

Asep menuturkan, survei yang dilakukan IRC sering kali ditujukan untuk kepentingan politik tertentu, terutama saat pemiliknya terjun ke dunia politik.

"Survei ini biasa dilakukan untuk dongkrak elektabilitas dan popularitas owner. Kadang dipakai juga untuk pilkada-pilkada, di mana (pemilik) di sana ikut meng-endorse sehingga terkesan ada peningkatan kinerja," ujar Asep kepada Kompas.com, Kamis (10/7/2014) malam.

Salah satu cara yang digunakan untuk memengaruhi hasil survei, kata Asep, adalah dalam tahap penentuan sampel. Asep menuturkan, jika penelitian dilakukan secara obyektif, penentuan sampel disesuaikan dengan data penduduk dari Badan Pusat Statistik. Namun, yang dilakukan IRC tidak demikian.

"Karena keterbatasan dana, sampling yang seharusnya bersifat probabilistik (acak, tanpa tujuan tertentu) diubah menjadi non-probabilistik (bertujuan tertentu, subyektivitas peneliti)," ujar Asep.

Dia mencontohkan, sampel yang diambil oleh IRC sering kali hanya melibatkan sampel yang terjangkau aksesnya. Selain itu, apabila ditujukan untuk kepentingan politik tertentu, IRC mengambil sampel di basis pendukung tertentu.

"Sehingga, hasilnya pun sesuai dengan keinginan klien. Saya bisa katakan, tingkat kesadaran akan penggunaan metodologi penelitian yang tepat sangat rendah di IRC. Sebagian besar rezim lama di IRC hanya memikirkan penghematan dana. Bagi peneliti, masalah dana seharusnya nomor sekian, yang terpenting metodologinya benar dan bisa dipertanggungjawabkan," papar Asep.

Terkait dengan hasil hitung cepat yang berbeda-beda, Asep juga meminta masyarakat untuk kritis. Asep menyarankan agar publik melihat siapa pemilik lembaga-lembaga survei itu dan jejak rekamnya selama ini dalam melakukan survei ataupun hitung cepat.

IRC adalah lembaga survei yang digunakan oleh kubu Prabowo-Hatta untuk mengklaim kemenangan. Berdasarkan hasil hitung cepat IRC, Prabowo-Hatta unggul dengan dukungan 51,11 persen dan Jokowi-Jusuf Kalla 48,89 persen.


sumber : kompas

Baca Selengkapnya ....

Politik Pasca Pilpres 2014

Posted by Patriot 0 comments
Oleh: Asep Salahudin

Pemilu Presiden 2014 telah berlangsung relatif aman. Kerusuhan yang dibayangkan akan menghantui alhamdulillah tidak terjadi. Amuk massa hakikatnya bukan tabiat negeri kepulauan yang justru terkenal santun, gotong royong, dan ramah, seperti terpantul dari seluruh sila dalam ideologi negara dalam lambang Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang digali dari kitab Sutasoma karya Empu Tantular abad ke-14.

Kita harus berterima kasih kepada seluruh masyarakat yang dengan kesadaran tinggi telah memosisikan pilpres tidak sebagai ”perang badar”, tetapi hanya penggalan hikayat politik dalam rotasi demokrasi lima tahunan untuk memilih pimpinan nasional yang dianggap dalam memori kolektifnya mampu mempercepat takdir bangsa menemukan adabnya.

Bahkan, harus diakui, realitasnya, rakyat kecil sering kali jauh lebih dewasa dalam memaknai pemilihan umum ketimbang elite. Mereka dengan ikhlas menghentikan pekerjaannya pulang ke kampung halaman untuk sekadar masuk tempat pemungutan suara menggunakan hak pilihnya. Padahal, yang dicoblos sama sekali tidak kenal serta tidak ada kaitan kekerabatan, puak, kepentingan, apalagi kesamaan partai.

Ketika para elite masih mengklaim kemenangan dan tim sukses mereka belum menerima kekalahan, padahal banyak hasil penghitungan cepat (quick count) dengan terang merujuk pada kemenangan pasangan Joko Widodo-M Jusuf Kalla (Jokowi-JK), di lapisan bawah mereka yang berbeda pilihan sudah kembali bercengkerama dalam suasana silaturahim yang cair. Tanpa harus diungkapkan, alam kebatinan mereka sudah berbicara bahwa merajut keindonesiaan yang bersatu jauh lebih penting ketimbang sekadar sengketa pilpres.

Penyikapan

Pemenang tidak perlu jemawa, yang kalah tidak semestinya menyimpan kesumat. Kontestasi selalu hanya menyisakan dua kemungkinan: dia yang diberi kesempatan dan atau yang belum saatnya sejarah berpihak kepadanya. Festivalisasi senantiasa berujung pada hal itu. Bahkan, boleh jadi kekalahan lebih utama karena di seberangnya tersedia kesempatan melakukan refleksi secara utuh tentang seluruh jalan hidup yang telah dijalaninya.

Orang arif sering menyebut kekalahan sebagai modal rohaniah untuk menyelam menemukan permata di medan lautan sepi yang tidak pernah dirasakan orang lain yang tidak bertarung. Apalagi, dirasakan orang lain yang bergabung dengan nawaitu sesaat hanya sekadar ingin masuk bagian dari kabinet, menjadi "menteri senior", memburu rente, ataupun menikmati popularitas.

Kekalahan sebagai jalan politik menuju keutamaan. Bukankah justru di tangan seorang Siddhartha Gautama, kekuasaan yang telah berada di genggaman itu malah ditanggalkan demi memburu ketenangan batin menyingkir dari pusat kekuasaan terpekur di bawah pohon bodis demi menyambut datangnya terang fajar pencerahan.

Sejarah lain mencatat. Imam Ali, seorang tokoh politik dalam pemilihan jabatan luhur kekhalifahan, ternyata memilih rute senyap memberikan contoh kiprahnya yang lebih mengunggulkan etika ketimbang terus mengatur siasat memburu kursi dan menebar ketakutan kepada khalayak. Walaupun, sikapnya yang seperti ini pada akhirnya membuat kekuasaannya secara de facto terlepas berpindah ke tangan Muawiyah.

Bahkan, dirinya sendiri secara tragis harus menjadi martir dari para pihak yang kecewa atas pilihan moderat politiknya: mati di tangan separatis Khawarij yang dahulu konstituennya, tetapi telah berbalik haluan berkiblat kepada ekstremisme menganggap liyan sebagai kafir, memandang ”mereka” yang tidak berhukum kepada firman Tuhan sebagai ”bidah” terkutuk yang harus dilenyapkan.

Imam Ali dengan penuh kesadaran mengajarkan ihwal moralitas politik, tentang "yang politik" (maslahat) harus melampaui "politik" (muslihat), tentang pembedaan (istilah Zizek) antara "politik nalar" dan "politik durjana" (a specifically political rationality and a specifically political evil). Imam Ali menginjeksikan keniscayaan berpolitik dengan akal sehat.

Politik harian

Setelah pemilu legislatif dan pilpres secara langsung diselesaikan dengan ongkos politiknya yang sangat mahal yang dibayarkan dari pajak rakyat, sudah semestinya agenda selanjutnya para terpilih itu berterima kasih kepada segenap rakyat, baik yang memilihnya maupun yang tidak memilihnya.

Caranya adalah, pertama, bekerja keras berkhidmat untuk kepentingan bersama. Kedua, membuat regulasi yang menempatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam seluruh tata kelola pemerintahan. Ketiga, menanggalkan atribut keburukan yang melekat dalam birokrasi.

Keempat, memperbaiki sistem pendidikan, kesehatan, dan ekonomi yang kadung karut-marut. Kelima, menumbuhkan pengalaman kemajemukan sebagai bagian penting dari sejarah seluruh warga bangsa yang plural. Keenam, mengembalikan lagi kebanggaan terhadap bangsa dengan cara, di antaranya, kaum pemimpin itu memberikan teladan selarasnya kata dengan ucapan, menjauhi watak rakus, menghentikan korupsi yang sudah menggurita.

Keenam hal inilah—kita sebut sebagai politik harian—yang menjadi identitas utama yang kelak harus dipertanggungjawabkan kepada kaum pemilihnya. Jadi, pada akhirnya ketika bertemu kembali pada pemilu yang akan datang, pertanyaan penting yang muncul: layakkah mereka dipilih kembali atau tidak?

Politik harian seperti ini yang akan menjadi penanda apakah demokrasi itu sekadar berhenti sebatas instrumental, mengarah menjadi simtom pembusukan demokrasi (democracy decay), atau telah menyentuh sisi substantifnya. Apakah kemeriahan demokrasi itu sebanding lurus dengan upaya pendistribusian rasa keadilan merata, penegakan hukum, dan terwujudnya negara kesejahteraan atau tidak? Politik harian yang akan membuat politik itu kemudian kembali pada fitrahnya yang agung.

Fitrah politik yang agung itu adalah politik seperti diuraikan Hannah Arendt (1906-1975), yang bertolak dari prinsip kebebasan, kesetaraan, dan koeksistensi semua orang di ruang publik yang pluralistik. Politik yang memberi kebebasan berpikir, berbicara, dan bertindak melampaui batas-batas tradisi, agama, birokrasi, dan kebenaran ilmiah. Politik yang terbebas dari kerangka penguasaan, pengendalian, dominasi, dan pertarungan kepentingan (Agus Sudibyo, Politik Otentik, 2013).

Merawat harapan

Jika hasil dari seluruh hajat pemilu legislatif dan pilpres itu tak pernah menunjukkan indeks prestasi positif, sebagai bangsa masih tetap berada di halaman belakang daripada negara-negara tetangga, belum juga berdaulat secara ekonomi, politik, dan kebudayaan, sesungguhnya kita masih tetap harus merawat harapan.

Keindonesiaan yang telah menginjak usia ke-69 tahun tak seharusnya tunduk pada segenap perangai negatif kaum pemimpin, tersekap ormas berhaluan menyimpang yang bertentangan dengan falsafah negara dan cita-cita para pendiri bangsa. Apa pun hasil dari Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden 2014, tidak semestinya menjadi alasan bubarnya Negara Kesatuan Republik Indonesia dan punahnya negeri kepulauan layaknya negara-negara Balkan.

Asep Salahudin
Peneliti di Lakpesdam PWNU Jawa Barat; Dekan Fakultas Syariah IAILM Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya


sumber : kompas

Baca Selengkapnya ....

Perbedaan Quick Count Akan Diselidiki

Posted by Patriot 0 comments
Anggota Dewan Etik Persepi, Hamdi Muluk, mengatakan dua anggota Persepi, yaitu Puskaptis dan Jaringan Suara Indonesia (JSI), menunjukkan hasil berbeda dengan tujuh anggota Persepi lainnya.
Puskaptis dan JSI menyebutkan perolehan suara pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mengungguli pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla dengan selisih 1% sampai 5%.

Dua lembaga survei tersebut bekerja sama dengan stasiun televisi TV One.

"Kalau kita melihat polarisasinya, TV One itu aneh sendiri memenangkan Prabowo. Kita bisa lihat yang terafiliasi dengan Prabowo memenangkan Prabowo, sementara yang memenangkan Jokowi itu independen," kata Hamdi.

Hamdi mengatakan hasil hitung cepat antar lembaga bisa berbeda tetapi dengan arah yang sama.

"Hasil hitung cepat yang berbeda masih dalam batas wajar, misalnya dengan sampling 2.000 TPS dan margin error katakanlah 2,8%. Kalau perbedaan di rentang itu, kita bisa toleransi tetapi dengan arah yang sama," jelas Hamdi.
Tujuh anggota

Hamdi Muluk mengatakan akan memanggil Puskaptis dan Jaringan Suara Indonesia setelah sidang dewan etik hari ini.

"Kita hanya bisa memanggil dua lembaga karena itu anggota Persepi. Kami akan melakukan sidang dewan etik dan setelah itu mamanggil dua lembaga survei yang merupakan anggota Persepi."

Berbeda dengan Puskaptis dan JSI, tujuh anggota Persepi lain menunjukkan pasangan Joko Widodo–Jusuf Kalla menang dengan selisih 4%-5%.

Tujuh lembaga survei tersebut ialah Populi Center, CSIS, Litbang Kompas, Indikator Politik Indonesia, Lingkaran Survei Indonesia, Radio Republik Indonesia, dan Saiful Mujani Research Center.

Perbedaan quick count, menurut Ketua Pusat Studi Demokrasi Muhammad Asfar, merupakan dasar mengapa kedua pasangan capres sebaiknya menunggu hasil perhitungan resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan tidak cepat-cepat mengklaim kemenangan.

"Kedua pasangan harus mendinginkan suasana, tak boleh saling klaim. Jika elit bisa menahan diri untuk tidak melakukan gerakan euforia kemenangan sampai ke bawah, kekhawatiran di akar rumput tidak akan timbul dan konflik tidak terpicu," kata Asfar.

KPU akan mulai melakukan penghitungan suara nasional pada 20-22 Juli mendatang dan mengumumkan pemenang pemilihan presiden pada 22 Juli. Presiden terpilih akan dilantik pada bulan Oktober.

sumber : BBC

Baca Selengkapnya ....

Hasil 'Ganjil' Quick Count LSN Ramai Dibahas di Twitter

Posted by Patriot 0 comments
4 Lembaga survei, yaitu Puskaptis, IRC, JSI, dan LSN, menempatkan Prabowo-Hatta sebagai pemenang quick count. Namun ada keganjilan dari hasil quick count LSN yang ditayangkan salah satu tv swasta. Apa itu?

Hasil quick count keempat lembaga itu ditayangkan oleh sejumlah stasiun televisi swasta, yaitu tvOne, RCTI, MNC, dan Global TV. Nah, hasil quick count LSN yang ditayangkan Global TV ramai dibahas di twitter.

Dalam hasil quick count LSN yang ditayangkan oleh Global TV, tertulis Prabowo-Hatta meraih 50,60% suara dan Jokowi-JK meraup 49,75% suara. Di sinilah letak keganjilannya. Sebab, jika dijumlahkan, maka hasilnya adalah 100,35%. Padahal seharusnya jumlahnya pas 100%.

Di stasiun televisi lain, tertulis sejumlah hasil berbeda. Pada tayangan RCTI, hasil survei LSN tertulis, Prabowo-Hatta 50,60% dan Jokowi-JK 49,40%. Di MNC, Prabowo-Hatta 50,68% dan Jokowi-JK 49,32%.

Belum jelas benar penyebab 'keganjilan' hasil quick count yang ditayangkan Global TV. Boleh jadi itu hanya kesalahan penulisan. Belum ada konfirmasi dari pihak Global TV soal keganjilan ini.

Hingga pukul 22.53 WIB, perbedaan hasil di atas masih terlihat.


sumber : detik.com

Baca Selengkapnya ....

"TV One" Sepihak Tambah 3 Lembaga Survei, Poltracking Batalkan Kerja Sama

Posted by Patriot 1 comments
Direktur Eksekutif Poltracking Institute Hanta Yudha mengatakan, pihaknya sebenarnya sudah menjalin kesepakatan dengan salah satu televisi swasta terkait publikasi hasil hitung cepat (quick count) Pemilu Presiden 2014. Namun, kata Hanta, kerja sama tersebut tiba-tiba diubah oleh pihak televisi tersebut.

Dalam wawancara dengan Metro TV, Rabu (9/7/2014) malam, Hanta menjelaskan, kesepakatan awal bahwa hanya Poltracking yang akan memublikasikan hitung cepat di televisi tersebut. Setelah kesepakatan itu, televisi tersebut sudah mengiklankan rencana publikasi hitung cepat Pol-Tracking.

Namun, kata Hanta, informasi dari redaksi televisi tersebut pagi tadi, ada tiga lembaga survei lain yang sama-sama akan memublikasikan hitung cepat.

"Kita keberatan karena kesepakatan bersama hanya Poltracking. Itu bisa diklarifikasi di iklan-iklan promosi. Saya kaget ketika diinfokan ada tiga lembaga lain," kata Hanta.

Hanta menambahkan, pihaknya sempat memberi waktu hingga pukul 13.30 WIB tadi, apakah bisa memublikasikan hitung cepat berdasarkan kesepakatan. Poltracking sudah siap mengolah data dari salah satu hotel di Jakarta. Akhirnya, ia memutuskan untuk tidak memublikasikan di televisi tersebut.

Hanta tidak mau menyebut nama televisi yang dimaksud. Namun, dalam akun Twitter resmi TV One, @tvOneNews, telah dipublikasikan rencana publikasi hitung cepat lembaga Poltracking.

Seusai pencoblosan siang tadi, TV One akhirnya menampilkan hitung cepat tiga lembaga, yakni Puskaptis, Lembaga Survei Nasional, dan Jaringan Suara Indonesia. Hasil hitung cepat ketiga lembaga itu memperlihatkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa unggul dari Joko Widodo-Jusuf Kalla. (baca: "Quick Count", Ini Hasil Lengkap 11 Lembaga Survei)

Adapun hasil hitung cepat Poltracking berdasarkan data yang masuk 99 persen, pasangan Jokowi-Jusuf Kalla memperoleh 53,37 persen dan Prabowo-Hatta 46,63 persen. Hingga berita ini diturunkan, Kompas.com mencoba meminta klarifikasi TV One.


sumber : kompas

Baca Selengkapnya ....

Perhimpunan Survei Pertanyakan Hasil "Quick Count" yang Unggulkan Prabowo

Posted by Patriot 0 comments
Anggota Dewan Etik Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi), Hamdi Muluk, mempertanyakan empat lembaga survei yang mengeluarkan hasil quick count yang memenangkan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Data quick count atau hitung cepat yang disampaikan empat lembaga itu berbeda dari tujuh lembaga survei lain.

"Kalau secara logika, tentunya dari sekian banyak itu, sesuatu yang benar itu kalau koheren dengan kebenaran-kebenaran yang lain. Jadi kalau dari 10, tujuh mengatakan A, tiga mengatakan B, kemungkinan B yang salah," kata Hamdi dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (9/7/2014).

Keempat lembaga survei yang menampilkan data berbeda adalah Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), Indonesia Research Center, Lembaga Survei Nasional, dan Jaringan Suara Indonesia. Hamdi menengarai ada potensi manipulasi data atau manipulasi sampel terkait hasil quick count lembaga survei yang berbeda dari sebagian besar lembaga survei lain.

Untuk memastikan itu, Persepi akan memanggil lembaga survei yang berada di bawahnya. Dari empat lembaga survei yang dianggap salah tersebut, hanya JSI dan Puskaptis yang berada di bawah Persepi. "Persepi dalam hal ini akan panggil lembaga yang ada di bawah Persepi. Yang terbanyak, yang benar harusnya," ujar Hamdi.

Sekjen Persepi Yunarto Wijaya mengatakan, ini bukan pertama kalinya Puskaptis menyampaikan hasil quick count yang jauh berbeda dari lembaga survei lain. Data berbeda juga disampaikan Puskaptis terkait dengan Pilkada Kota Palembang beberapa waktu lalu. Yunarto mengatakan, perbedaan data semacam ini dalam quick count berpotensi menimbulkan konflik di akar rumput.

"Ketika didiamkan terjadi lagi, bukan pada level metodologis, ini aib dan memalukan, membuat konflik di bawah. Puskaptis karena dianggap menyesatkan harus diamankan polisi di Palembang. Kita tidak inginkan itu terjadi karena situasi memanas," ujar Yunarto.


sumber : kompas

Baca Selengkapnya ....

"Quick Count", Ini Hasil Lengkap 11 Lembaga Survei

Posted by Patriot 0 comments
Tujuh dari 11 lembaga survei yang melakukan hitung cepat atau quick count dalam Pemilu Presiden 2014 menyebut pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai pemenang pemungutan suara.

Sebaliknya, empat lembaga survei lain mendapatkan pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa sebagai pemenang.

Tujuh lembaga survei itu adalah Litbang Kompas, Lingkaran Survei Indonesia, Indikator Politik Indonesia, Populi Center, CSIS, Radio Republik Indonesia, dan Saiful Mujani Research Center.

Sementara itu, empat lembaga survei yang mendapatkan hasil kemenangan bagi Prabowo-Hatta adalah Puskaptis, Indonesia Research Center, Lembaga Survei Nasional, dan Jaringan Suara Indonesia.

Menanggapi hasil hitung cepat, kedua kubu menyatakan masing-masing mereka sebagai pemenang.

Prabowo melakukan sujud syukur di atas lantai karena merasa memenangi pilpres. Sementara itu, Jokowi dan pendukungnya berkumpul di Tugu Proklamasi, Jakarta Timur, merayakan kemenangan versi quick count.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta kedua belah pihak untuk saling menahan diri sambil menunggu pengumuman resmi Komisi Pemilihan Umum pada 22 Juli mendatang.

Berikut hasil lengkap kesebelas lembaga survei tersebut:
 
No    Lembaga Survei Prabowo-
Hatta
Jokowi- JK Sumber
1 Populi Center 49,05 50,95 Suara.com
2 CSIS 48,1 51,9 Liputan6.com
3 Litbang Kompas 47,66  52,33  Kompas.com
4 Indikator Politik Indonesia 47,05 52,95 Metrotvnews.com
5 Lingkaran Survei Indonesia 46,43 53,37 Konferensi pers
6 Radio Republik Indonesia 47,32 52,68 Detik.com
7 Saiful Mujani Research Center 47,09 52,91 Detik.com
8 Puskaptis 52,05 47,95 Viva.co.id
9 Indonesia Research Center 51,11 48,89 okezone.com
10 Lembaga Survei Nasional 50,56 49,94 Viva.co.id
11 Jaringan Suara Indonesia 50,13 49,87 Viva.co.id



sumber : kompas.com

Baca Selengkapnya ....

Prabowo: Salah Apa Saya Sama Metro TV dan Tempo?

Posted by Patriot 0 comments
Calon presiden nomor urut 1, Prabowo Subianto, menyemprot sejumlah awak pers di kediamannya di Bojong Koneng, Babakan Madang, Jawa Barat, Rabu, 9 Juli 2014. Prabowo menuding beberapa media menayangkan berita yang tidak berimbang dan kerap menyudutkan dirinya. (Baca: LSI, SMRC, dan IPI: Jokowi-JK Menang 52,7% Vs 47,2%)

Setelah mencoblos Prabowo memang memberikan kesempatan pada semua wartawan untuk mewawancarai dirinya. Namun Prabowo tiba-tiba emosi ketika mengetahui ada beberapa wartawan yang menurut dia selalu menyudutkan dirinya bisa masuk ke rumahnya. (Baca: Megawati Menangis Jokowi-JK Menang Pemilu Presiden)

Stasiun televisi Metro TV termasuk yang membuat Prabowo naik darah. Menurut dia, pemberitaan stasiun televisi milik Surya Paloh itu selalu menjelek-jelekkan dirinya. "Tolong tanyakan sama atasanmu, Surya Paloh, apa yang telah saya lakukan padanya?" ujar Prabowo menantang wartawan Metro TV. (Baca: Hitung Cepat Cyrus dan CSIS, Jokowi-JK Unggul)

Wartawan Metro TV sempat merespons Prabowo. Menurut wartawan itu, ucapan Prabowo akan disampaikan ke rapat redaksi. Braak, Prabowo Masukkan Surat Suara ke Kotak

Prabowo rupanya tak terima dengan jawaban itu. Menurut dia, hal itu tidak akan dilakukan. "You paling tidak berani," ujarnya. Wartawan Metro TV itu akhirnya dibujuk oleh ajudan Prabowo untuk segera meninggalkan rumah Prabowo. (Baca: Ini Alasan Popularitas Jokowi 'Rebound')

Tak hanya sampai di situ, mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus itu juga mulai marah dan keberatan atas pemberitaan Tempo. Menurut dia pemberitaan Tempo selalu merugikan dirinya. "Tempo juga selalu memberitakan hal yang buruk tentang saya," ujarnya. (Baca: Prabowo Tak Percaya Hasil Hitung Cepat)

Prabowo bahkan merasa tidak pernah menyakiti pendiri Tempo, Goenawan Mohamad. "Salah apa saya sama Goenawan Mohamad," ujarnya sebelum diwawancarai CNN.

sumber : tempo.co

Baca Selengkapnya ....

Ramalan Presiden Indonesia Mendatang Menurut Pakar Fengshui dan Anak Indigo

Posted by Patriot 0 comments
Sebuah tayangan ramalan anak azure terhadap calon presiden Indonesia mencuri perhatian. Tayangan уаng diambil dаrі acara Bukаn Empat Mata dеngаn pemandu Tukul Arwana іtu menampilkan hasil penerawangan komunitas anak azure tеntаng Presiden Indonesia. Dаlаm tayangan уаng direkam tahun 2005 tеrѕеbut menyebutkan pemimpin mаѕа depan Indonesia аdаlаh sosok pemimpin уаng sederhana.
“Alam аkаn mеmbuаt sosok dаrі kesederhanaan mencapai kedudukan dеngаn cara уаng mengejutkan. Mudah-mudahan sekitar enam atau tujuh tahun dаrі tahun 2005 orang іtu ѕudаh mulаі kelihatan,” begitu ramalan komunitas azure.

Hasil penerawangan komunitas anak azure іnі pun οlеh sebagai kalangan dikait-kaitkan dеngаn kemunculan Jokowi pada 2012. Jokowi memang mulаі dikenal luas οlеh publik pada 2012 saat mаѕіh sebagai Wali Kota Solo dаn kemudian menjadi Gubernur DKI. Banyak уаng menilai ramalan dаrі komunitas anak azure іnі menemui kenyataan.

Sosok sederhana уаng disebutkan mendekati karakter Jokowi уаng sederhana. Survei calon presiden 2014 pun menyebutkan Jokowi lеbіh unggul dibanding sejumlah tokoh уаng sempat digadang-gadang menjadi calon presiden.

Saat ditanya kru stasiun televisi, “Adа ара dеngаn Indonesia dі mаѕа depan?” Komunitas anak azure lalu menjelaskan sembari menunjukkan gambar уаng merupakan hasil penerawangannya.

“Inі gambar tеntаng buku bertumpuk dеngаn bendera, bukunya terbuka tеruѕ аdа tulisan, menceritakan bahwa ѕudаh tercatat secara alam bahwa negeri kita digambarkan melalui bendera.”

“Negeri kita Indonesia аkаn mengalami bencana, namun alam berbaik hati mendidik seorang calon pemimpin уаng munculnya dаrі sebuah kesederhanaan (gambarnya rumah уаng sederhana). Alam аkаn mеmbuаt dіа mencapai kedudukan іnі dеngаn cara уаng mengejutkan.”

Fengshui

Sеmеntаrа іtu, ahli fengshui dаn grafologi Indonesia, Ferry Wong, menyakini Joko Widodo merupakan reinkarnasi Soekarno. Mantan Wali Kota Solo dаn Gubernur DKI Jakarta іtu dinilai mampu membawa perubahan bagi Indonesia. Hаl ѕаmа уаng dilakukan Soekarno dаlаm memerdekakan Indonesia.

Ferry menjelaskan Jokowi dаn Soekarno memiliki shio dаn unsur уаng ѕаmа, уаіtu kerbau logam. “Inі ѕаngаt јаrаng tеrјаdі, kesamaan shio dаn unsur hаnуа tеrјаdі setiap 60 tahun sekali,” katanya ѕереrtі dikutip Rhythm.com.

Secara astrologi, Jokowi dаn Soekarno juga memiliki kesamaan, yakni kelahiran bintang Gemini dеngаn unsur udara. Kesamaan іnі memungkinkan Jokowi memiliki ambisi уаng ѕаmа dеngаn Soekarno.

“Jokowi аkаn memberikan perubahan, dimulai dеngаn mеlаkukаn pembenahan sistem pelayanan masyarakat,” uјаr Ferry.

Ferry juga menilai keputusan Megawati memberikan mandat kераdа Jokowi sebagai capres dаlаm pemilu 2014, merupakan tindakan уаng tepat.

“Jokowi аkаn pro rakyat dаlаm memimpin,” ucapnya.

Meski memiliki astrologi уаng ѕаmа dеngаn Soekarno, Jokowi tіdаk sepenuhnya ѕаmа dеngаn Soekarno.

“Unsurnya ѕаmа, tapi waktu kelahiran juga berpengaruh. Jadi tidaklah seratus persen ѕаmа,” tutur Ferry.

Sekali lagi, іtu hаnуа ramalan. Selanjutnya terserah Anda. Boleh percaya boleh juga tіdаk.


sumber : berita100.com

Baca Selengkapnya ....

‘Isyarat Langit’ Kyai Khos NU: Jokowi Menang…

Posted by Patriot 0 comments
Perang opini soal siapa yang bakal menang Pilpres 9 Juli mendatang, melalui klaim spiritual berlanjut. Setelah kabar shalat istikharah Ketum PPP Suryadharma Ali menyatakan hasilnya adalah Prabowo memang Pilpres, giliran Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) membuat klaim. Wakil Sekjen PKB Lukmanul Hakim mengatakan isyarat langit yang diperoleh kyai khos NU menyatakan Jokowi menang di Pilpres 2014. Jadi siapa yang menang sebenarnya?

“Sembilan ulama khos itu berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Aceh, dan NTB,” kata Lukman di Jakarta, seperti dilansir dari Antara, Rabu (23/4). Lukman menjelaskan, bocoran yang ia dapatkan dari kalangan ulama dan kiai, hasil istikharah sembilan kiai khos di kalangan NU.

Lukman mengatakan, dalam tradisi NU, istikharah dijunjung tinggi, terutama ketika hendak mengambil keputusan penting. Menurut Lukman, hasil istikharah kiai khos dan hasil survei mayoritas lembaga survei di Indonesia menempatkan Jokowi sebagai kandidat yang berpeluang besar memenangkan pilpres mendatang.

“PKB sudah menemukan kecocokan untuk koalisi dengan PDI Perjuangan. Tinggal menunggu keputusan akhirnya saja. Semua proses menuju koalisi sudah berjalan baik dan sesuai harapan,” katanya.

Meski demikian, Lukman berharap PDI Perjuangan danJokowi tidak salah dalam memilih bakal cawapres yang akan mendampingi Jokowi. “Pak Jokowi harus memilih pasangan yang tepat. Selain untuk memperkuat posisinya sebagai capres, juga untuk menemukan soliditas dalam membangun Indonesia, jika kelak terpilih menjadi presiden,” katanya.Tags: jokowi menang kyai khos jokowi jokowi dan nu kyai jokowi nu jokowi kiai khos Jokowi nu Jokowi bakal menang jokowi menurut ulama.

sumber : harianpos.com

Baca Selengkapnya ....

Berbagai Survei Arahkan Jokowi-JK Kalah, Tapi Diprediksi Tetap Menang Pilpres

Posted by Patriot 0 comments
Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute, Karyono Wibowo menyatakan ada upaya mengarahkan persepsi publik melalui publikasi riset untuk seakan-akan pasangan Prabowo-Hatta telah mengungguli pasangan Jokowi-JK, yang sejak setahun terakhir selalu berada di atas. Walau pengarahan opini itu masif, namun dipastikan Jokowi-JK tetap akan memenangkan pilpres 2014.

Karyono Wibowo menyatakan, dirinya memantau sejumlah hasil survei yang menempatkan elektabilitas Prabowo-Hatta jauh melampaui elektabilitas Jokowi-JK. Menurutnya, itu dibuat secara mencolok dan disengaja. Tujuannya, diarahkan untuk men-downgrade Jokowi-JK.

"Survei demikian itu bertujuan mempengaruhi psikologi publik. Hasil survei tersebut digunakan untuk meneror mindset publik agar pemilih berpaling dari Jokowi-JK," kata Karyono di Jakarta, Senin (7/7).

Walau demikian, dia menegaskan prediksinya menunjukkan bahwa Jokowi-JK sebenarnya masih tetap di atas.

"Prediksi saya, elektabilitas Jokowi-JK sampai saat ini masih di urutan pertama, meskipun elektabilitas Prabowo-Hatta mengalami peningkatan," kata dia.

Dia melanjutkan, tren kenaikan elektabilitas Prabowo-Hatta harus dilihat sebagai sesuatu yang wajar karena pilpres saat ini hanya ada dua pasangan.

Namun demikian, jika situasi politik yang terjadi saat ini dalam keadaan konstan atau berlaku hukum "ceteris paribus", maka Jokowi-JK kecenderungan berpotensi menang pada pilpres 9 Juli nanti.

"Namun yang harus diwaspadai adalah apabila ada skenario menggunakan lembaga survei untuk melegitimasi kemenangan salah satu pasangan calon, yang mungkin sudah menyiapkan beberapa kecurangan," tukasnya.

Karyono juga menyatakan bahwa bagi lembaga survei, ada berbagai cara untuk mengarahkan opini itu. Biasanya mereka sangat hati-hati dalam memainkan opini hasil survei. Pendekatan yang digunakan lebih menggunakan metode framing, dimana data yang dipublikasikan tidak secara ekstim diputarbalikkan.

"Tetapi didesain lebih soft atau lebih moderat," imbuhnya.

Penulis: Markus Junianto Sihaloho/FAB

sumber : beritasatu.com

Baca Selengkapnya ....

Siapa Cawapres Jokowi Tak Penting, Pasti Menang Satu Putaran

Posted by Patriot 9 comments
Direktur Imparsial Al Araf optimistis politisi PDI Perjuangan Joko Widodo alias Jokowi akan menang satu putaran dalam Pemilihan Presiden 2014 mendatang dengan siapa pun calon wakil presidennya. Oleh karena itu, dia menilai tidak penting membahas siapa yang akan menjadi cawapres Jokowi.

"Sebenarnya, diskusi siapa cawapres yang pantas mendampingi Jokowi itu enggak penting. Kita semua tahu Jokowi pasti akan menang dengan siapa pun dia dipasangkan. Pasti menang satu putaran," kata Araf dalam diskusi bertajuk Siapa Figur Ideal Pendamping Jokowi di Gallery Cafe, Cikini, Jakarta, Kamis (20/3/2014).

Al Araf menilai, kunci keterpilihan Jokowi terletak pada kesederhanaannya. Sikap Jokowi yang sederhana itu sangat berbeda dengan para calon presiden lainnya. Masyarakat pun, kata dia, sudah bosan dengan sosok calon presiden yang terkesan tidak merakyat.

"Jokowi istilahnya kita mau ajak ngobrol di warung kopi saja bisa kok, jelas saja masyarakat berbondong-bondong milih dia. Jokowi dipasang sama J Kristiadi atau Boni Hargens juga pasti menang," ujarnya kepada narasumber diskusi lain yang hadir.

Namun, meskipun pasti menang, untuk kepentingan bangsa, dia menyarankan agar PDI-P tetap mencari tokoh terbaik untuk Jokowi. Caranya, kata dia, adalah mencari tokoh yang bisa menutupi kekurangan Gubernur DKI Jakarta itu. Menurutnya, meskipun dipuja-puja masyarakat, Jokowi tetap manusia yang tak luput dari kekurangan.

"Jokowi ini agak kosong soal visi dan misinya ke depan, gagasannya ke depan. Itu karena dia terbiasa langsung bertindak untuk mengatasi berbagai permasalahan. Jadi, sebaiknya dicarikan yang bisa menutupi kekurangan Jokowi itu," kata dia.

PDI-P baru akan membahas mengenai cawapres dan koalisi setelah pelaksanaan Pileg 9 April 2014. Pasalnya, untuk mengusung capres-cawapres, ada syarat seperti diatur dalam UU Pilpres, yakni 20 persen perolehan kursi DPR atau 25 persen perolehan suara sah nasional.

sumber : kompas

Baca Selengkapnya ....

Prabowo: Jika masih hidup, Pak Harto terpilih presiden 2014

Posted by Patriot 3 comments
Kebesaran dan pengaruh almarhum Soeharto, masih kuat hingga kini. Sekarang, gaya kepemimpinan presiden kedua Indonesia itu masih banyak dirindukan rakyat. Bahkan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto mengatakan, kalau Soeharto masih hidup, dipastikan bakal menang di Pemilu 2014.

"Kalau Pak Harto fit sampai sekarang, dia terpilih jadi presiden 2014," kata Prabowo di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Kamis (30/5).

Hal itu disampaikan saat Prabowo audiensi di hadapan ratusan rektor guru besar dan profesor, di seminar nasional memperingati hari kebangkitan nasional 'Membangun Kembali Indonesia Raya Berdasarkan Konstitusi'.

Menurut Prabowo, Soeharto dengan segala kelebihan dan kekurangannya, mampu membawa perubahan dan kesejahteraan bagi bangsa. "Lihat apa yang beliau tinggalkan, Kedung Ombo," lanjutnya.

Meski Prabowo mengakui banyak rakyat masih menjagokan Soeharto jadi presiden, dia memprediksi persentase suara tak lebih dari 60 persen pemilih. "70 persen tidak, 60 persen masih memilih, kalau kita jujur," terangnya.

sumber : merdeka.com

Baca Selengkapnya ....

Andai menang, mungkinkah gaya Prabowo mirip Soeharto?

Posted by Patriot 2 comments
Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto kemungkinan besar akan mencalonkan diri menjadi presiden 2014. Dengan latar belakang petinggi militer pada zaman Orde Baru, Prabowo mengingatkan publik kepada sosok almarhum mantan Presiden Soeharto .

Pengamat politik Sinergi Masyarakat (Sigma) Said Salahudin mengatakan, meskipun Prabowo dan Soeharto merupakan orang militer, gaya kepemimpinan mereka berbeda. Zaman Orde Baru yang dipimpin Soeharto dulu jelas tidak akan bisa diterima di Indonesia saat ini.

"Gaya kepemimpinan mereka akan beda jika Prabowo menjadi presiden karena gaya kepemimpinan Soeharto yang main gebuk sana-sini sudah tidak bisa lagi diterima di Indonesia,' kata Said kepada merdeka.com, Kamis (30/5).

Semua tahu titik balik hancurnya kepemimpinan Soeharto adalah ketika era reformasi 1998. Jika kepemimpinan otoriter seperti era Orde Baru ditetapkan kembali maka itu akan menimbulkan perlawanan dari rakyat.

"Rakyat Indonesia yang semakin pintar dan kritis membuat para calon pemimpin merubah gaya kepemimpinan," ujarnya.

Selain perbedaan itu, lanjutnya, ada juga kemiripan antara Prabowo dan Soeharto , yakni pendekatan kepada rakyat.

"Dulu Soeharto rajin mendatangi petani bahkan harga cabe pun diumumkan di radio atau TV. Prabowo sekarang juga seperti itu mendekatkan diri dari pedagang kecil ke pedagang yang lain," imbuhnya.

Anggota Komisi III Fraksi Gerindra Martin Hutabarat menegaskan gaya Prabowo memimpin tidak akan seperti Soeharto yang otoriter dan tidak mencerminkan demokrasi. Sebab, di era yang penuh demokrasi ini diperlukan pemimpin menjunjung tinggi kebebasan.

"Kemajuan Indonesia akan mempengaruhi gaya kepemimpinan seseorang. Apalagi di zaman reformasi seperti sekarang ini," tutupnya.

sumber : merdeka.com


Baca Selengkapnya ....

Prabowo Kembali Sesali Batal Kudeta Habibie

Posted by Patriot 2 comments
Untuk kedua kalinya, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto kembali mengungkapkan penyesalannya karena batal melakukan kudeta terhadap Presiden ketiga RI, BJ Habibie.

Hal ini disampaikan Prabowo saat berpidato di hadapan Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia di Jakarta, Sabtu (1/3/2014).

Prabowo mengawali ceritanya soal kritik dari sistem ekonomi neo liberal yang dianggapnya hanya akan dirasakan golongan tertentu saja. Prabowo mengaku kritiknya itu kerap ditertawakan.

Banyak orang yang mempertanyakan kapasitas Prabowo bicara soal ekonomi. Namun, dia menuturkan kritik soal sistem neoliberal ini sudah sejak 20 tahun lalu dia diskusikan. Bahkan, saat dirinya berpangkat mayor dan letkol.

"Makanya saya mendukung adanya reformasi, karena saya juga termasuk korban reformasi. Saya dituduh macam-macam. Dituduh mau megkudeta. Mau, tapi enggak kudeta. Terus terang aja di hati kecil saya, lebih bagus mau kudeta saat itu," ujar Prabowo.

Prabowo mengritik proses demokrasi yang saat ini berlangsung. Menurutnya, demokrasi sudah kebablasan. Demokrasi sudah membuat ribuan surat kabar, banyaknya partai politik, dan semakin merajalelanya kasus korupsi.

"Maling tambah maling, tambah banyak hakim konstitusi yang juga maling. Luar biasa bangsa kita ini," kata mantan Panglima Komando Pasukan Khusus tersebut.

Selorohan Prabowo soal kudeta terhadap Habibie ini setidaknya sudah dua kali disampaikannya. Pertama kali, Prabowo menyinggung soal isu kudeta itu saat menjadi pembicara dalam public lecture Soegeng Sarjadi Syndicate pada 18 Desember 2012 lalu.

"Kalau orang dengar nama Prabowo pasti akan tergambar bekas tentara, komandan Kopassus, dan kudeta, serta kejadian 1998. Itu kan urut urutannya," ujar Prabowo ketika itu.

Terkait isu kudeta itu, Prabowo bahkan mengutarakan penyesalannya tidak jadi melakukan kudeta tahun 1998 silam. Pernyataannya itu diucapkan Prabowo sambil berseloroh.

"Saya letnan jenderal purnawirawan, mantan Panglima Kostrad yang hampir kudeta. Tapi, kudeta enggak jadi, nyesel juga saya sekarang, ha-ha-ha...," ujarnya.

Hubungan antara Prabowo dan BJ Habibie pada tahun 1998 silam dikabarkan sempat memanas. Di dalam buku Detik-detik yang Menentukan karya BJ Habibie diceritakan bagaimana Prabowo sempat meminta bertemu Habibie yang ketika itu menjadi Presiden setelah Soeharto mundur.

Pertemuan akhirnya dilakukan pada 22 Mei 1998 di Istana Negara. Di dalam pertemuan itu, Habibie akhirnya memecat Prabowo dari posisinya sebagai Pangkostrad. Prabowo dikabarkan sempat tidak terima akan keputusan Habibie.

Namun, Habibie tetap bertahan dengan alasan adanya pergerakan pasukan TNI AD masuk ke arah Kuningan dan menuju Istana Negara. Prabowo berdalih bahwa itu untuk mengamankan Presiden.

Namun, Habibie tidak lantas percaya dan tetap pada keputusannya mencopot Prabowo. Menurut Prabowo, ketika itu, dia tidak jadi melakukan kudeta lantaran sumpahnya di masa remaja dulu.

Pada umur 18 tahun, Prabowo menyatakan dirinya sudah bersumpah untuk membela negara Indonesia yang bersendikan Pancasila.

"Gara-gara sumpah sih jadi enggak jadi, karena saya ingat itu. Saya takutnya sama buku kecil yang berisi UUD 1945. Takutnya hanya satu buku itu, yang di dalamnya ada satu ayat yang menyebutkan presiden pegang kekuasaan tertinggi atas angkatan perang. Jadi, sudah dikunci dengan satu kalimat itu," ujar pria yang kini tengah meniti jalan menuju calon presiden pada 2014 ini.

sumber : kompas.com

Baca Selengkapnya ....

Jokowi vs Prabowo, Siapa Yang Lebih Berambisi Jadi Presiden?

Posted by Patriot 403 comments
gambar ; jurnal3.com
Pasca penunjukkan Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), serangan terhadap Jokowi pun mulai berdatangan. Serangan paling keras datang dari calon presiden Partai Gerindra, Prabowo. Mulai dari penyebaran perjanjian Batu Tulis hingga sindiran-sindiran keras yang kerap dilontarkan Prabowo. Meskipun tidak pernah mengklarifikasi kepada siapa serangan tersebut ditujukan tapi publik sudah mengetahui bahwa serangan itu ditujukan kepada Jokowi.

Melihat situasi ini, saya menjadi bertanya-tanya kenapa reaksi Prabowo seperti itu. Dibandingkan calon presiden lainnya yang tetap terlihat tenang, reaksi Prabowo sangat berlebihan. Dari latar belakang beliau yang seorang militer, seharusnya sikap jantan dan kesatria-lah yang harus ditunjukkan. Kalau beliau tidak setuju, tunjukkan dengan kritik yang baik. Bukan dengan menyindir. Justru sindiran tersebut dapat menjadi bumerang bagi dirinya sendiri karena publik jadi mengetahui bahwa calon presidennya ternyata tidak siap bersaing. Jika pada tahap Pemilu saja sudah seperti ini, bagaimana jika terpilih nanti.

Dari beberapa artikel di media massa online saya coba mengumpulkan beberapa hal yang menurut saya dapat menentukan tingkat ambisius seorang calon presiden.

Yang pertama adalah Jokowi. Mengutip dari wikipedia, Jokowi adalah sosok rakyat biasa yang kemudian sukses menjadi pengusaha furniture di Solo. Pada tahun 2005 beliau terpilih sebagai Walikota Solo. Dibawah kepemimpinannya Solo berubah menjadi kota pariwisata, budaya, batik dan tempat penyelenggaraan berbagai event internasional. Pemindahan pedagang kaki lima yang dilakukan dengan manusiawi membuat dirinya semakin terkenal sehingga pada tahun 2010 beliau terpilih lagi menjadi Walikota Solo dengan perolehan suara hingga 90%. Pada tahun 2012, beliau ditunjuk PDIP menjadi calon gubernur DKI Jakarta dan kemudian terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017. Pada tanggal 14 Maret 2014, PDIP kembali menunjuk Jokowi namun kali ini sebagai calon presiden dari PDIP. Jokowi pun menyanggupi penunjukkan ini. Penunjukkannya sebagai calon presiden dari PDIP sontak menjadi pemberitaan nasional dan internasional. Bahkan Indeks Harga Saham Gabungan dan Rupiah ikut menguat beberapa menit setelah penunjukkan Jokowi.

Prabowo Subianto adalah seorang mantan Danjen Kopassus, pengusaha, politisi dan anak dari begawan ekonomi Indonesia, Soemitro Djojohadikusumo. Mengutip dari wikipedia, Prabowo menikah dengan Siti Hediati Hariyadi, anak Presiden Soeharto. Namun pernikahan tersebut berakhir pasca Soeharto mundur dari jabatan Presiden Republik Indonesia. Prabowo mengawali karier militernya pada tahun 1970 dengan mendaftar di Akademi Militer Magelang dan lulus pada tahun 1974 bersamaan dengan Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Republik Indonesia saat ini. Pada tahun 1996, Prabowo Subianto yang menjabat Komandan Kopassus memimpin operasi pembebasan sandera Mapenduma. Operasi ini berhasil menyelamatkan nyawa 10 dari 12 peneliti Ekspediti Lorentz ‘95 yang disekap oleh Organisasi Papua Merdeka. 5 orang yang disandera adalah peneliti biologi asal Indonesia, sedangkan 7 sandera lainnya adalah peneliti dari Inggris, Belanda dan Jerman. Pada tanggal 26 April 1997, Tim Nasional Indonesia yang terdiri dari anggota Kopassus, Wanadri, FPTI, dan Mapala UI dan diprakasai oleh Prabowo berhasil mengibarkan bendera merah putih di Puncak Everest, puncak tertinggi dunia setelah mendaki melalui jalur selatan Nepal.

Pada tahun 1997, Prabowo difitnah sebagai salah satu dalang penculikan terhadap sejumlah aktivis pro-reformasi menjelang Pemilihan Umum tahun 1997 dan Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat tahun 1998. Prabowo sendiri mengakui memerintahkan Tim Mawar untuk melakukan penangkapan kepada sembilan orang aktivis sesuai perintah atasan dan menganggapnya sebagai tindakan yang benar dalam pandangan rezim saat itu. Namun demikian, Prabowo belum diadili atas kasus tersebut walau sebagian anggota Tim Mawar sudah dijebloskan ke penjara. Walaupun soal penculikan baru sebatas praduga, sebagian korban dan keluarga korban penculikan 1998 masih menganggap Prabowo dalang penculikan dan belum memaafkan Prabowo dan masih terus melanjutkan upaya hukum. Sebagian berupaya menuntut keadilan dengan mengadakan aksi ‘diam hitam kamisan’, aksi demonstrasi diam di depan Istana Negara setiap hari Kamis. Sebagian lagi telah bergabung dengan kepengurusan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), bahkan duduk di DPR RI. Pada Mei 1998, menurut kesaksian Presiden Habibie dan purnawirawan Sintong Panjaitan, Prabowo melakukan insubordinasi dan berupaya menggerakkan tentara ke Jakarta dan sekitar kediaman Habibie untuk kudeta. Karena insubordinasi tersebut ia diberhentikan dari posisinya sebagai Panglima Kostrad oleh Wiranto atas instruksi Habibie.

Setelah meninggalkan karier militernya, Prabowo memilih untuk mengikuti karier adiknya Hashim Djojohadikusumo, menjadi pengusaha. Pada Pilpres 2009, Prabowo ialah cawapres terkaya, dengan total aset sebesar Rp 1,579 Triliun dan US$ 7,57 juta, termasuk 84 ekor kuda istimewa yang sebagian harganya mencapai 3 Milyar per ekor. Kekayaannya ini besarnya berlipat 160 kali dari kekayaan yang dia laporkan pada tahun 2003. Kala itu ia hanya melaporkan kekayaan sebesar 10,153 Milyar.

Prabowo memulai kembali karier politiknya dengan mencalonkan diri sebagai calon presiden dari Partai Golkar pada Konvesi Capres Golkar 2004. Meski lolos sampai putaran akhir, akhirnya Prabowo kandas di tengah jalan. Ia kalah suara oleh Wiranto. Pada tahun 2008 Partai Gerindra mulai menyatakan Prabowo sebagai calon presiden. Namun karena perolehan suara Gerindra pada pemilu 2009 kurang dari 20% maka Gerindra berkoalisi dengan PDIP mengusung Megawati dan Prabowo sebagai calon presiden dan calon wakil presiden. Namun akhirnya pasangan ini kalah dari pasangan SBY-Boediono. Pada pemilu 2014 ini, Gerindra semakin gencar mengusung Prabowo sebagai calon presiden. Pada saat kampanye akbar di Gelora Bung Karno beberapa waktu lalu, Prabowo tampil menaiki kudanya yang berharga Rp 3 milyar, mengenakan keris dan menyampaikan pidato politiknya yang didalamnya berisi pantun sindiran terhadap Jokowi.

Melihat latar belakang dan catatan karir politik kedua tokoh tersebut tampak bahwa Prabowo lebih berambisi menjadi Presiden sejak tahun 2004. Sedangkan Jokowi dalam menduduki setiap jabatan hampir selalu dimulai dengan penunjukkan partainya yaitu PDIP, bukan mengajukan diri. Mungkin sebagian menilai ini hanyalah strategi politik semata. Ada yang terus terang dan langsung berkampanye sebagai calon presiden, namun ada pula yang memulai dengan jabatan sebagai kepala daerah.

Pada pemilu kali ini, saya kira masyarakat lebih pandai menilai terhadap setiap calon presiden yang diajukan oleh partai politik. Setiap calon memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jokowi dianggap sebagian kalangan mengingkari janjinya untuk menuntaskan tugas sebagai Gubernur DKI. Tapi sebagian kalangan juga berharap Jokowi menjadi presiden karena rekam jejaknya yang bersih, sederhana dan merupakan figur pemimpin yang berani terjun ke bawah dan mendengarkan aspirasi masyarakat secara langsung. Hal ini dibuktikan dengan berbagai hasil survey yang menempatkan Jokowi di posisi puncak.

Prabowo dengan latar belakang militernya dianggap memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat dan tegas. Prestasinya dibidang militer pada era Orde Baru dan kesuksesannya menjadi pengusaha dianggap sebagai modal besar untuk menjadi seorang pemimpin. Namun sejarah juga menunjukkan catatan kelam atas keterlibatannya terhadap penculikan aktivis di era Orde Baru, pelanggaran HAM dan rencana kudeta terhadap Presiden Habibie pada saat itu.

sumber : kompasiana

Baca Selengkapnya ....

Biografi Jokowi - Ir. H. Joko Widodo

Posted by Patriot 5 comments
gambar: ranapsimanjuntak.files.wordpress.com


Ir. H. Joko Widodo yang lahir di Surakarta, 21 Juni 1961 lebih dikenal dengan nama julukan Jokowi adalah pengusaha mebel dan Beliau merupakan Walikota Surakarta (Solo) selama dua kali masa bakti 2005-2015. Dalam masa jabatannya, ia diwakili F.X. Hadi Rudyatmo sebagai wakil walikota. Ketika itu, dia dicalonkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Tahun 2012 ini, Beliau bersama dengan Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M. (Ahok) maju sebagai calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta.

Biodata Jokowi - Joko Widodo :

Nama   : H.Joko Widodo (Jokowi)
TTL     : Surakarta, 21 Juni 1961
Isteri    : Iriana
Anak :
  1. Gibran Rakabuming (25), lulusan Universitas di Australia dan Singapura
  2. Kahiyang Ayu (21), mahasiswi Universitas Negeri Sebelas Maret
  3. Kaesang Pangarep (17), pelajar di Singapura

Pendidikan:
  1. SDN 111 Tirtoyoso, Solo
  2. SMPN 1 Solo
  3. SMAN 6 Solo
  4. Fakultas Kehutanan UGM (lulus tahun 1985)
Penghargaan :

Penghargaan Personal:
  1. 10 Tokoh di Tahun 2008 oleh Majalah Tempo
  2. Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta Award
  3. Bung Hatta Anticorruption Award (2010)
  4. Charta Politica Award (2011)
  5. Wali Kota teladan dari Kementerian Dalam Negeri (2011)

Kota Solo di Masa Kepemimpinan Jokowi:
  1. Kota dengan Tata Ruang Terbaik ke-2 di Indonesia
  2. Piala dan Piagam Citra Bhakti Abdi Negara dari Presiden Republik Indonesia (2009), untuk kinerja kota dalam penyediaan sarana Pelayanan Publik, Kebijakan Deregulasi, Penegakan Disiplin dan Pengembangan Manajemen Pelayanan
  3. Piala Citra Bidang Pelayanan Prima Tingkat Nasional oleh Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Republik Indonesia (2009)
  4. Penghargaan dari Departemen Keuangan berupa dana hibah sebesar 19,2 miliar untuk pelaksanaan pengelolaan keuangan yang baik (2009)
  5. Penghargaan Unicef untuk Program Perlindungan Anak (2006)
  6. Indonesia Tourism Award 2009 dalam Kategori Indonesia Best Destination dariDepartemen Kebudayaan dan Pariwisata RIbekerjasama dengan majalah SWA.
  7. Penghargaan Kota Solo sebagai inkubator bisnis dan teknologi (2010) dari Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia (AIBI)
  8. Grand Award Layanan Publik Bidang Pendidikan (2009)
  9. 5 kali Anugerah Wahana Tata Nugraha (2006-2011) - Penghargaan Tata Tertib Lalu Lintas dan Angkutan Umum
  10. Penghargaan Manggala Karya Bhakti Husada Arutala dari DepKes (2009)
  11. Kota Terfavorit Wisatawan 2010 dalam Indonesia Tourism Award 2010 yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
  12. Pemerintah Kota Solo meraih penghargaan kota/kabupaten pengembang UMKM terbaik versi Universitas Negeri Sebelas Maret alias UNS SME's Awards 2012
  13. Penghargaan dari Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono sebagai salah satu kota terbaik penyelenggara program pengembangan mewujudkan Kota Layak Anak (KLA) 2011.
  14. Penghargaan Langit Biru 2011 dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk kategori Kota dengan kualitas udara terbersih
  15. Penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudoyono dalam bidang Pelopor Inovasi Pelayanan Prima (2010).
Gubernur baru DKI Jakarta Joko Widodo memiliki kisah masa kecil yang unik. Jokowi kecil sempat merasakan pahitnya kehidupan saat rumahnya tergusur. Masa kecil Jokowi diwarnai canda dan tawa, dengan sesekali diselingi tangisan. Rumah petak sekaligus tempat usaha kayu ayahnya di daerah Cinderejo Lor, digusur dan dijadikan pusat jasa travel. Sang bunda menuturkan bahwa Jokowi kecil adalah sosok pendiam, namun pandai bergaul. Banyak yang mengenal Jokowi sebagai orang yang selalu mengalah, untuk menghindari pertengkaran. Sikap tersebut diwarisi Jokowi dari kedua orangtuanya yang selalu mengajarkan makna ikhlas dan bertanggung jawab.

Berbeda dengan anak-anak kebanyakan, Jokowi selalu berjalan kaki menuju sekolahnya, disaat yang lain memamerkan sepeda ontel terbaru. Menurut Jokowi kala itu, sekolah tidak terlalu jauh dari rumah, sehingga berjalan kaki pun tidak menjadi masalah. Bakti kepada orangtua ditunjukkan Jokowi tak hanya lewat sikap, namun juga sejumlah prestasi. Saat menjadi Walikota Solo hingga menjadi Gubernur DKI Jakarta, orang-orang yang mengenalnya tidak pernah menyangka perjalanan hidup Joko kecil. Sosok jokowi sangat dicintai rakyatnya. Dukungan warga Solo tak pupus, termasuk saat Jokowi maju menjadi Gubernur DKI Jakarta. Anak tukang kayu itu pun, kini menjadi orang nomor satu di DKI Jakarta.

Jokowi kecil adalah anak seorang "tukang kayu". Setelah Beliau lulus dari SMA, kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada . Setelah lulus kuliah tahun 1985, dirinya merantau ke Aceh dan bekerja di salah satu BUMN. Kemudian ia kembali ke Solo dan bekerja di Perusahaan yang bergerak di bidang perkayuan, CV. Roda Jati. Setelah merasa cukup, pada tahun 1998, dirinya berhenti bekerja di CV tersebut dan memulai berbisnis sendiri bermodal dari pengalaman yang pernah ia miliki. Dengan kerja keras, ketekunan dan keuletan, akhirnya Jokowi berhasil mengembangkan bisnisnya dan menjadi seorang eksportir mebel.

Jokowi meraih gelar insinyur dari Fakultas Kehutanan UGM pada tahun 1985. Ketika mencalonkan diri sebagai wali kota, banyak yang meragukan kemampuan pria yang berprofesi sebagai pedagang mebel rumah dan taman ini bahkan hingga saat ia terpilih. Pada tahun 2005, Pak Jokowi memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Walikota Solo dengan partai politik PDI Perjuangan sebagai kendaraan politiknya. Akhirnya Beliau pun terpilih menjadi Walikota Solo. Selama kepemimpinannya, Solo banyak mengalami kemajuan. Setahun setelah ia memimpin, banyak gebrakan progresif dilakukan olehnya. Ia banyak mengambil contoh pengembangan kota-kota di Eropa yang sering ia kunjungi dalam rangka perjalanan bisnisnya.

Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. Branding untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui slogan Kota Solo yaitu "Solo: The Spirit of Java". Langkah yang dilakukannya cukup progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa: ia mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) dengan masyarakat. Taman Balekambang, yang terlantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dijadikannya taman. Jokowi juga tak segan menampik investor yang tidak setuju dengan prinsip kepemimpinannya.

Sebagai tindak lanjut branding ia mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 ini. Pada tahun 2007 Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. FMD pada tahun 2008 diselenggarakan di komplek Istana Mangkunegaran. Oleh Majalah Tempo, Joko Widodo terpilih menjadi salah satu dari "10 Tokoh 2008"

Sikap rendah hati Walikota solo ini tidaklah dibuat-buat. Bagi Masyarakat Solo, Jokowi adalah sosok pemimpin yang sangat peduli dengan kehidupan mereka. Di lorong pasar dan jalan-jalan di Kota Solo, Pak Jokowi sering sekali mengobrol dan mendengarkan keluh kesah rakyat tanpa jarak. Ada satu fakta yang sangat mengejutkan, Jokowi belum pernah mengambil gajinya selama menjabat sebagai seorang Walikota dan Mobil yang ia pakai sebagai mobil dinas saat ini hanyalah "warisan" mobil dinas pendahulunya yaitu Bapak Slamet Suryanto.

Pada pemilihan Walikota 2010-2015, Pak Jokowi berhasil meraih 90% suara dari total pemilih. Sungguh fantastis seorang pemimpin yang benar-benar dicintai masyarakatnya. Mobil Esemka, beliau lah salah satu orang yang berani memakai dan mempeloporinya. Jokowi-pun menyemangati murid-murid pembuat mobil Esemka saat mobil ini tak lulus uji emisi. Ia diminta oleh Jusuf Kalla untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta pada Pilgub DKI tahun 2012 dan berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama. Ia mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta pada Pilgub DKI tahun 2012 dan berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama.

Hitung cepat yang dilakukan sejumlah lembaga survei pada hari pemilihan, 11 Juli 2012 dan sehari setelah itu mengunggulkan namanya sebagai pemenang. Pasangan ini diunggulkan memenangi pemilukada DKI 2012. Dalam pilkada putaran kedua hasil penghitungan cepat Lembaga Survei Indonesia menetapkan pasangan Jokowi-Ahok sebagai pemenang dengan 53,81%. Sementara rivalnya, Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli mendapat 46,19%. Apabila hasil ini tidak berubah hingga penetapan resmi KPUD DKI Jakarta, Jokowi dipastikan menjabat gubernur yang ke-17. Akhirnya pada 29 September 2012 KPUD DKI Jakarta menetapkan pasangan Jokowi-Ahok sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI yang baru untuk masa bakti 2012-2017 menggantikan Fauzi Bowo-Prijanto.

"Orangnya ndeso kok luar biasa, bisa menang di Jakarta," ucap Sutarti, tetangga Jokowi.

sumber :
jokowicentre.blogspot.com
jokowi-widodo.blogspot.com

Baca Selengkapnya ....

Dukungan Capres Diprediksi Mengerucut pada Jokowi dan Prabowo

Posted by Patriot 0 comments
Guru Besar Psikologi Politik Universitas Indonesia Hamdi Muluk memprediksi dukungan calon presiden akan mengerucut pada sosok Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Menurutnya, kedua nama tersebut tidak mungkin disatukan, sementara partai lain perlu tokoh yang kuat untuk maju dalam pemilihan presiden.

Hamdi mengatakan, kubu Jokowi dan Prabowo tidak akan berkoalisi dalam pencalonan presiden dan wakil presiden. "Prabowo sudah mulai menyerang. Sebenarnya dia tidak sebut nama, tapi kita bisa menyimpulkan, sepertinya Jokowi yang diserang," ujar Hamdi dalam Dialog Pilar Negara di Gedung MPR/DPR RI, Senin (24/3/2014).

Hamdi mengatakan, pola relasi antara Prabowo dan Jokowi cenderung negatif sehingga kecil kemungkinan keduanya bekerja sama. Kerja sama akan dilakukan dengan partai lain yang sepaham dan memiliki relasi positif.

Hamdi menilai saat ini Jokowi dan Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekaroputri berada pada kubu yang sama, yakni Megawati memiliki relasi negatif dengan Presiden RI sekaligus Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Oleh karena itu, ia menengarai Jokowi dan PDI-P tidak berkoalisi dengan pihak-pihak terkait SBY.

Hingga saat ini, Partai Demokrat belum mengusung calon presiden maupun wakil presiden. Menurut Hamdi, Demokrat dapat berkoalisi dengan partai mana saja, kecuali dengan PDI-P yang dibawahi Megawati.

Mengenai Golkar, yang mengusung Aburizal Bakrie sebagai capres, Hamdi menilai partai tersebut dapat berkoalisi dengan partai lain yang kesempatan menangnya lebih besar. Partai Golkar sejauh ini fleksibel dan terbuka, sama seperti Nasdem dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Adapun partai-partai menengah ke bawah, seperti Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Amanat Nasional, PKS, Partai Persatuan Pembangunan, Nasdem, dan Partai Hati Nurani Rakyat, diprediksi akan bergabung dengan partai lain jika mereka mendapatkan suara kurang dari 20 persen.

Oleh karena itu, Hamdi menyimpulkan bahwa nantinya dukungan capres akan mengerucut pada Jokowi dan Prabowo. "Jadi kalau secara hipotesis, paling tiak ada tiga kubu, menurut saya. Tapi kalau kita kerucutkan lagi, mungkin dua kubu, artinya Jokowi (PDI-P) dan kubu Prabowo," kata Hamdi.

Meski begitu, Hamdi memprediksi akan ada kemungkinan "kotak kosong", yakni rakyat dihadapkan pada pilihan antara memilih Jokowi atau tidak memilih sama sekali. Hal itu terjadi karena Prabowo mungkin gagal mendapat koalisi dan suara partainya tidak mencapai 20 persen. Dengan kondisi semacam itu, partai-partai kemungkinan berkumpul di kubu Jokowi.

"Harusnya, kalau hari ini Pak Prabowo lantang betul, saya yakin mungkin dia dapat teman koalisi, apa pun caranya," ujar Hamdi.

sumber : kompas

Baca Selengkapnya ....

Gunung Kelud, Sejarah Panjang dan Anomali Letusan.

Posted by Patriot 0 comments
Gunung Kelud yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Kediri, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Blitar, di Jawa Timur, meletus lagi pada Kamis (13/2/2014) pukul 22.50 WIB. Letusan ini mengembalikan ciri historis panjang letusan gunung ini, yang hanya berjeda perubahan letusan pada 2007.

Gunung Kelud merupakan gunung api bertipe strato. Lokasinya berada di 7 derajat 56 menit Lintang Selatan dan 112 derajat 18 menit 30 detik Bujur Timur. Gunung Kelud memiliki ketinggian 1.731 meter di atas permukaan laut.

Letusan terakhir Gunung Kelud sebelum Kamis ini adalah pada 3-4 November 2007. Letusan tersebut ibarat jeda dari ciri khas letusan Gunung Kelud yang biasanya adalah eksplosif, termasuk letusan sekarang. Pada 2007, hanya terjadi letusan efusif, yang memunculkan kubah lava di tengah lokasi yang dulu adalah danau kawah Gunung Kelud.

Sejarah panjang dan anomali letusan Gunung Kelud

Catatan tentang letusan Gunung Kelud terlacak sejak tahun 1000, seperti termuat dalam buku Data Dasar Gunung Api Indonesia yang diterbitkan Kementerian Energi, Sumber Daya Alam, dan Mineral pada 2011.

Ciri letusan eksplosif gunung ini setidaknya diketahui sejak 1901. Letusan pada 2007, merujuk ungkapan mantan Kepala Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, Surono, adalah anomali.

"Penyelewengan" ciri khas pada 2007 itu pun menurut Surono bukan karena ada hal gaib atau tak dapat dijelaskan. Letusan pada 2007 tidak mempertontonkan letusan hebat sebagaimana setiap kali Gunung Kelud meletus lebih karena ternyata ada retakan di jalur lava gunung itu, yang membuat daya dorong letusan sudah merembes keluar. Karenanya, daya letus gunung pun jauh berkurang.

Pada 1990, letusan terakhir sebelum letusan Kamis malam, setidaknya 200 juta ton meter kubik material padat terlontar dari kawah Gunung Kelud. Sebagai pembanding, letusan Gunung Merapi pada 2010 "hanya" melontarkan 150 juta meter kubik material padat.

Ribuan korban jiwa dan terowongan Ampera

Dengan ciri letusan yang eksplosif, Gunung Kelud adalah salah satu gunung api aktif yang mencatatkan ribuan korban jiwa dalam sejarah panjang letusannya, meski dampaknya belum seluar biasa letusan Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat ataupun Gunung Krakatau di Selat Sunda yang sampai mengguncang dunia.

Sebelum letusan pada 2007, Gunung Kelud dikenal sebagai gunung api dengan kawah berupa danau. Menurut Surono dalam sebuah wawancara, kedahsyatan dampak letusan dengan tipe kawah semacam Gunung Kelud ini akan berbanding lurus dengan volume air pada danau kawah.

Letusan efusif pada 2007, telah menyurutkan danau kawah di Gunung Kelud, hanya menyisakan genangan yang bahkan nyaris kering. Namun, sebelumnya upaya untuk menyusutkan volume danau kawah ini juga sudah dilakukan pemerintah, yaitu dengan pembangunan terowongan pembuangan air. Proyek pertama dibangun pada masa pemerintahan kolonial, pada 1926.

Terowongan tersebut dibangun setelah letusan Gunung Kelud meletus pada 1919 yang menewaskan tak kurang dari 5.160 orang. Terowongan yang dibangun pemerintah kolonial itu sempat tertutup material vulkanik pada letusan 1966 meski lolos dari kerusakan akibat letusan pada 1951.

Meski letusan 1919 sudah memakan korban jiwa sedemikian banyak, letusan Gunung Kelud yang paling banyak menewaskan berdasarkan catatan yang ada adalah letusan pada 1586, dengan lebih dari 10.000 orang jadi korban.

Terowongan pengalir air dari danau kawah buatan 1926 masih berfungsi sampai sekarang. Namun, setelah letusan 1966, Pemerintah Indonesia membangun terowongan baru yang lokasinya 45 meter di bawah terowongan lama.

Terowongan baru yang rampung dibangun pada 1967 ini diberi nama Terowongan Ampera. Fungsinya menjaga volume air danau kawah tak lebih dari 2,5 juta meter kubik.

Pada letusan 1990 yang berlangsung selama 45 hari, material vulkanik yang dilontarkan letusan Gunung Kelud mencapai 57,3 juta meter kubik. Namun, lahar dinginnya mengalir sampai 24 kilometer melewati 11 sungai yang berhulu di Gunung Kelud. Terowongan Ampera pun sempat tersumbat, dan revitalisasinya baru rampung pada 1994.

sumber: kompas.com

Baca Selengkapnya ....

Jokowi capres terkuat PDIP

Posted by Patriot 10 comments
Meski tak masuk dalam deretan nama Calon Presiden (Capres) 2014 hasil riset dan survei Lembaga Survei Nasional (LSN), Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo diprediksi akan menjadi calon pemenang tunggal jika konvensi capres PDIP mengikut sertakan mantan Wali Kota Solo tersebut.

Demikian dikatakan Peneliti Utama LSN Dipta Pradipta kepada Sindonews.com. Menurutnya, hasil survei LSN yang tidak mengaitkan Jokowi, sapaan akrab Joko Widodo, karena penelitian tersebut terfokus pada capres yang notabene masuk dalam struktur tinggi partai.

LSN menilai Jokowi tidak memegang jabatan di struktur partai PDIP hingga saat ini, namun Dipta meyakini Jokowi akan menang mutlak jika akhirnya ikut dalam konvensi tertutup di partainya itu.

"Kemarin kita tidak mengikutsertakan Jokowi karena dipenelitian kita hanya terfokus pada capres yang masuk di struktur petinggi partai. Jokowi bukan orang struktur partai tapi kalau PDIP mengajak dikonvensi, Jokowi bisa jadi calon terkuat sebagai capres PDIP," kata Dipta kepada Sindonews.com, Jakarta, Rabu (17/7/2013).

Sebelumnya LSN melakukan survei terkait elektabilitas capres atas beberapa tokoh yang aktif sebagai pengurus partai. Tiga nama besar menghuni tingkat elektabilitas masing-masing. Peringkat pertama ditempati oleh Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan poin elektabilitas sebesar 22,7 persen, lalu disusul ketua umum partai Golkar Aburizal Bakrie dengan nilai 16,3 persen, dan berikutnya Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Wiranto dengan perolehan sebesar 13,2 persen.

Di beberapa survei yang dilakukan lembaga survei di Indonesia, Jokowi menjadi capres paling favorit pilihan masyarakat. Orang nomor satu di DKI Jakarta tersebut konon dianggap sebagai figur baru yang berhasil merebut simpati masyarakat dengan kebijakan dan kepemimpinannya.

Kendati demikian, sekalipun LSN memprediksi kemenangan mutlak untuk Jokowi jika akhirnya direstui masyarakat untuk mengikuti konvensi capres PDIP, namun keputusan resmi soal kepastian Jokowi maju menjadi capres 2014 tetap menjadi domain Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Saat ini gubernur yang gemar blusukan tersebut masih berstatus sebagai Gubernur DKI Jakarta yang baru menjalankan pemerintahannya selama setahun. Publik masih menunggu realisasi janji Jokowi untuk merubah Ibukota hingga 5 tahun mendatang.


sumber : sindonews.com

Baca Selengkapnya ....
sejarah indonesia, ramalan masa depan indonesia, ramalan masa depan, ramalan presiden indonesia 2014, ramalan presiden 2014, Ramalan Indonesia di masa depan, ramalan indonesia masa depan, prediksi presiden indonesia 2014, ramalan indonesia kedepan, Ramalan presiden ri 2014, prediksi presiden 2014, ramalan pemimpin indonesia 2014, ramalan presiden ke 7 indonesia, prediksi indonesia di masa depan, ramalan indonesia 2014, prediksi presiden ri 2014, ramal masa depan, ramalan tentang indonesia di masa depan, ramalan tentang masa depan indonesia, ramalan presiden RI ke 7, prediksi indonesia kedepan, Ramalan indonesia ke depan, ramalan masa depan bangsa indonesia, Ramalan presiden ke 7, ramalan presiden indonesia tahun 2014, ramalan indonesia dimasa depan, ramalan pemimpin indonesia masa depan, ramalan tentang indonesia masa depan, ramalan pemimpin masa depan, Ramalan pemimpin indonesia
Calon presiden 2014 pemilu capres pemiliu 2014. Jokowi, prabowo subianto JK Jusuf Kalla Amien rais SBY Ical Aburizal Bakri. Wiranto Hidayat nur wahid hatta radjasa mahfud md dahlan iskan. Megawati rhoma irama eyang subur capres alternatif capres independen. PKS PAN PKB PPP PDIP PDI Perjuangan Demokrat nasdem nasional demokrat gerindra hanura golkar. Calon legislatif DPR hasil survei pemilu 2014.
Template by Berita Update - Trik SEO Terbaru. Original design by Bamz | Copyright of Capres Pemilu 2014.